“Beri tahu aku bagian mana dari dirimu yang terluka, maka akan aku rawat lukanya.”
“Jangan memaksa dirimu untuk mencintaiku. Bila suatu hari kamu merasa tak lagi mampu memberiku cinta, maka lepaskanlah aku.”
“Bahkan jika kehidupan diulang beribu-ribu kali, aku akan tetap memilihmu sebagai pasanganku.”
Sejak awal, begitulah caraku mencintaimu.
Kupeluk seluruh bagian dirimu. Luka yang kau sembunyikan, ketakutan yang tak pernah kauucapkan, hingga masa lalu yang diam-diam masih menghantuimu. Aku tak pernah berniat menghapus semua lukamu. Aku hanya ingin menemanimu sampai luka itu tak lagi terasa begitu perih.
Aku ingin menjadi rumahmu.
Rumah yang tetap menyalakan lampu, bahkan ketika dunia di luar terlalu gelap untuk kauhadapi sendiri. Rumah yang tak banyak bertanya mengapa kamu pulang larut dengan mata yang sembab. Rumah yang tak memaksamu bercerita, tetapi selalu siap mendengarkan ketika akhirnya kamu memilih membuka suara.
Aku percaya, setiap orang berhak memiliki tempat untuk beristirahat.
Dan aku ingin tempat itu adalah aku.
Namun hidup selalu tahu cara membalikkan harapan.
Saat akhirnya ragaku yang dipenuhi luka meminta untuk dipeluk, rumah yang selama ini kujaga perlahan menutup pintunya.
Mungkin, di matamu, aku sudah terlalu penuh retak.
Terlalu rumit untuk dipahami.
Terlalu lelah untuk dipertahankan.
Aku telah mencoba berbagai cara.
Kupunguti satu per satu serpihan yang jatuh dari hubungan kita. Kucoba menjahit kembali luka-luka yang kau bawa, berharap suatu hari nanti kita bisa saling menggenggam tanpa lagi takut terluka.
Namun aku gagal.
Aneh, ya.
Di antara seluruh pertanyaan yang telah kamu coba jawab, aku masih percaya bahwa kamu pernah mencintaiku.
Mungkin bahkan sangat mencintaiku.
Hanya saja, pada saat yang sama, kamu juga sedang tersesat di dalam dirimu sendiri. Kamu sibuk berdamai dengan luka-lukamu hingga tak lagi memiliki ruang untuk memeluk luka milikku.
Aku tidak pernah marah karena kamu terluka.
Aku hanya sedih karena pada akhirnya kamu memilih menghadapinya sendirian.
Telah kucoba berbagai cara untuk menyelami pikiranmu. Namun pada akhirnya, aku tetap terambang di atas permukaan air.
Bahkan telah kucoba memberi banyak beban pada tubuhku, berharap aku bisa tenggelam hingga mencapaimu.
Nyatanya, semua itu tak berpengaruh.
Aku tetap mengambang.
Aku tak mampu menyelami pikiranmu.
Kenapa?
Padahal, kamu bisa saja menarikku ke dalam. Membawaku ikut menyelam, memperlihatkan seluruh bagian dirimu yang selama ini kau sembunyikan. Aku ingin terlibat. Aku ingin menjadi tempatmu pulang ketika laut di dalam dirimu sedang bergejolak.
Aku tidak takut tenggelam bersamamu.
Yang kutakutkan hanyalah melihatmu tenggelam sendirian, sementara aku hanya bisa berdiri di tepian.
Namun pada akhirnya, aku sadar.
Bukan karena aku tak pandai menyelam.
Mungkin memang ada kedalaman yang tak pernah ingin kau bagi denganku.
Mungkin sejak awal, aku memang hanya ditakdirkan mengenal ombakmu, tanpa pernah benar-benar menyentuh dasar lautmu.
Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling sunyi.
Mencintai seseorang sedalam lautan, tetapi selamanya hanya diizinkan berdiri di bibir pantai.
