Aku otw ke sana, kita obrolin baik-baik ya.
Saras menatap nanar pesan terakhir di layar ponselnya. Pandangannya mengabur, terhalang oleh air mata yang luruh tanpa bisa ditahan. Di saat yang sama, amarah menjalar hebat hingga ke ubun-ubun. Dadanya sesak oleh emosi yang menggebu, menyulut hasrat untuk murka dan menumpahkan segala kekecewaan yang sedari tadi ia pendam.
Bel rumah berdering berulang kali, menyusup di antara isi kepala Saras yang carut-marut. Napasnya masih memburu, memutus kata-kata yang hendak keluar dari tenggorokannya. Ia bergeming, mengabaikan kebisingan itu.
Detik berikutnya, suara bel digantikan oleh gedoran kasar di pintu. Begitu brutal, seakan siap meruntuhkan pembatas di antara mereka.
“SARAS! BUKA PINTUNYA, SARAS! KAMU ENGGAK APA-APA KAN DI DALAM?!”
Pekikan panik itu menggema. Itu dia. Pria yang tadi berjanji lewat pesan singkat, kini sudah berdiri di balik pintu.
Sembari mencoba mengendalikan napasnya, Saras melangkah terseok menuju pintu apartemen. Ia sekuat tenaga menahan bendungan air mata di pelupuknya agar tidak pecah lagi. Begitu selot pintu diputar dan daun pintu terbuka perlahan, sosok seorang lelaki langsung tertangkap matanya — berdiri di sana dengan raut wajah yang pias dan diliputi kepanikan.
“Saras …,” panggil pria itu. Ia segera mencengkeram kedua bahu Saras, lalu menariknya ke dalam pelukan.
Saras hanya bergeming di dalam dekapan lelaki itu. Sorot matanya kosong, seakan-akan rasa kecewa telah menyelimuti seluruh jiwanya, menyisakan ruang hampa yang tak lagi bisa tersentuh.
“Maksud lo apa giniin gue, Bas?” tanya Saras dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Baskara — lelaki yang tengah mendekap erat tubuh Saras itu — perlahan mengurai pelukannya. Kedua tangannya beralih mencengkeram bahu gadis itu, lalu menatap lurus ke dalam manik matanya. Ada binar ketakutan yang jelas terpancar dari tatapan Baskara, seolah ia sadar bahwa kesalahan kali ini benar-benar fatal.
“Saras … aku minta maaf, Sayang. Aku tahu aku salah. Aku tahu kali ini kesalahan aku bener-bener fatal,” lirih Baskara.
Perlahan, ia menurunkan cengkeramannya dari bahu Saras. Tangannya bergerak turun, lalu menggenggam erat jemari gadis itu, seolah tak ingin membiarkannya lepas barang sekejap pun.
“Gue tanya, kenapa lo tega giniin gue, Bas?” tanya Saras sekali lagi.
Nada suaranya datar, sedatar tatapan kosongnya yang menghunjam langsung ke manik mata Baskara. Tak ada lagi air mata, yang tersisa hanya kekosongan yang teramat dingin.
“A–Aku enggak sengaja, Sar. Aku enggak maksud buat giniin kamu,” jawab Baskara terbata.
Ia menatap Saras dengan gurat ketakutan yang kian nyata. Di sudut matanya, air mata sudah menggenang, siap luruh bersama rasa bersalah yang mengimpit dadanya.
“Gue ada salah apa sama lo, Bas?” tanya Saras.
Setetes air mata perlahan meluncur melewati pipinya. Begitu pertanyaan itu lolos dari mulutnya, bibir Saras bergetar hebat, menahan tangis dan rasa sesak yang kini benar-benar tak lagi terbendung.
“Semua aksi, semua kata-kata manis lo itu bohong ya, Bas?” tanya Saras lagi.
Pertahanannya runtuh total; air matanya kembali meluncur deras beriringan dengan suaranya yang kian bergetar hebat. Di dalam dadanya, rasa kecewa terhadap Baskara kian menumpuk, menggunung hingga menyisakan rasa sesak yang teramat sangat.
Saras menyentak tangannya, menariknya paksa dari genggaman erat Baskara. Dengan gerakan lambat yang terasa begitu dingin, ia mengangkat tangan kanannya. Di sana, di jari manis yang gemetar, tersemat sebuah cincin indah yang kini justru terlihat seperti lelucon yang menyakitkan.
“Lo tahu kan ini apa? Cincin yang lo pakaiin ke jari gue. Tanda kalau lo bakalan sama gue selamanya, kalau lo sayang dan cinta sama gue. Tapi … gue tetap kalah ya, Bas?” lirih Saras.
Ia menunjuk cincin itu bertubi-tubi dengan jemari yang gemetar. Air matanya kian deras mengalir membasahi pipi, berkejaran dengan suaranya yang parau serta deru napasnya yang memburu kasar akibat rasa sesak yang menghantam dada.
“Sar … aku enggak bohong. Aku emang sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku mau sama kamu sampai aku mati, Sar!” jawab Baskara dengan suara meninggi, frustrasi.
Wajahnya menyiratkan ketakutan yang teramat sangat. Detik itu juga, pertahanan pria itu runtuh; air matanya luruh, jatuh tepat di hadapan Saras.
Plak!
Satu tamparan keras dari Saras mendarat telak di pipi Baskara. Baskara tersentak, syok yang luar biasa membuatnya refleks memegangi pipinya yang terasa panas. Di hadapannya, tangis Saras justru pecah kian deras. Napas gadis itu memburu tak beraturan, sementara jemarinya bergetar hebat setelah melayangkan pukulan tadi.
“Kalau lo beneran sayang, lo enggak akan nyari orang lain, Bas,” kata Saras.
Suaranya bergetar hebat, tetapi tatapan mata yang ia layangkan pada Baskara sarat akan rasa kecewa yang teramat pekat — sebuah ruang hampa yang tak lagi menyisakan kesempatan kedua.
“Lo tahu gimana kecewanya gue dapetin foto lo ciuman sama cewek lain di saat gue ngerasa kalau hubungan kita aman karena cincin di jari ini, Bas? Lo tahu gimana sakitnya hati gue? Berapa banyak anak panah yang nancep di hati dan kepala gue waktu ngeliat itu, lo tahu enggak, Bas?!”
Saras berteriak, mengeluarkan seluruh emosi yang sedari tadi menyumbat dadanya. Air matanya luruh kian deras saat ia mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat di depan wajah Baskara.
“Lo ingat setelah wisuda magister lo, lo datang ke rumah gue dalam keadaan hubungan kita belum jelas? Lo kenalan sama orang tua gue, bahkan lo ngeyakinin mereka kalau lo laki-laki yang pantes jadi pasangan hidup gue seumur hidup. Lo ingat kan waktu keluarga lo datang ke rumah gue? Lo ngelamar gue, lo pasangin cincin ini di jari manis gue … dan lo ingat gimana bahagianya semua orang di hari itu karena kita?!”
Kalimat itu meluncur dari bibir Saras dengan suara yang teramat tajam. Napasnya masih berderu kasar, berkejaran dengan rasa sesak yang kian mengimpit dadanya.
Air mata terus luruh membasahi pipi Baskara. Sesak di dadanya kian menyiksa, bahkan suara napasnya yang terengah kedengaran begitu jelas. Pria itu menatap Saras pasrah setelah semua memori tentang hari indah mereka dijabarkan kembali tanpa sisa. Rasa bersalah benar-benar menggulung dan melumpuhkannya.
Namun, bagaimana dengan Saras? Rasa kecewa, benci, dan amarah melebur menjadi satu, memuncak setiap kali ia mendapati sepasang manik mata Baskara tengah menatap dirinya.
“Sar …,” panggil Baskara lirih.
Tanpa ragu, Saras melepas cincin pertunangan dari jari manisnya. Ia meraih tangan kanan Baskara, memaksa telapak tangan pria itu terbuka, lalu meletakkan lingkaran perak tersebut tepat di sana.
Baskara sontak membulatkan matanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak menatap aksi Saras yang terasa begitu final.
“Batalin pernikahan kita. Gue bakalan bilang ke Ayah sama Bunda kalau kita selesai, dan gue akan terang-terangan ngejelasin semuanya ke mereka. Lo juga boleh bilang ke Mama Papa lo soal ini. Sekarang lo boleh keluar dari tempat gue, dan gue harap kita enggak akan pernah ketemu lagi, Bas.”
Kalimat itu meluncur tanpa keraguan sedikit pun, menutup rapat-rapat segala ruang untuk Baskara membela diri.
“Sar, biarin aku ngejelasin dulu,” kata Baskara panik.
Ia mencengkeram cincin di telapak tangannya erat-erat, sementara tangan kanannya bergerak cepat menggenggam pergelangan tangan Saras, menahan gadis itu agar tidak pergi.
Saras menyentak kasar, menepis genggaman Baskara dari pergelangan tangannya. Sambil melangkah mundur, ia menggelengkan kepalanya perlahan — sebuah penolakan mutlak yang memutus segala harapan pria itu.
Baskara pasrah. Ia menatap Saras untuk terakhir kalinya, lalu mengembuskan napas berat. Dengan bahu yang merosot, ia menunduk dan melangkah perlahan keluar dari ruangan milik Saras.
Begitu punggung Baskara hilang di balik pintu, Saras langsung menutup pintu apartemennya rapat-rapat. Ia menyandarkan punggungnya di sana, sebelum akhirnya tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Sambil memeluk kedua lutut yang ditekuk, kepalanya terkulai dalam-dalam seiring dengan derai air mata yang kembali luruh, membasahi kain celananya.
“Maafin aku, Saras …,” lirih Baskara. Itu adalah untaian kalimat terakhir darinya sebelum ia benar-benar berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu, hilang di balik kegelapan lorong.